Senin, September 15, 2008

SEPATAH KATA

Indukan Anthurium di Kembaran Jogja


Salam Sejahtera,
Saudaraku ... Sejak krisis ekonomi 1998, permintaan terhadap aneka jenis tanaman hias mengalami peningkatan yang sangat pesat dan mencapai puncaknya di tahun 2006-2007, nursery menjamur dimana-mana, event pameran dan bursa tanaman hias berlangsung silih berganti sepanjang tahun. Beberapa jenis tanaman hias muncul sebagai tanaman idola, baik yang sudah lama digemari seperti adenium, euphorbia, aglaonema, anthurium, sanseviera bahkan puring.

Bagaimana mungkin, selembar daun aglaonema harlequin sampai dihargai 15 juta rupiah, atau adenium berbonggol cantik yang laku 50 juta bahkan indukan anthurium jenmani cobra laku terjual 1,3 milyard …
its fantastic, blessing in disguise..
Memang demikianlah realita yang terjadi pada berbagai jenis tanaman hias, meroket naik pamor dan jadi bahan perburuan banyak orang. Disatu pihak daya beli sebagian besar masyarakat di Indonesia semakin melemah, namun dilain pihak kaum menengah keatas seolah-olah tak menggubris dan merasakan hal itu, banyak orang yang mengalami entrance atau bahkan jadi kesurupan tanaman hias, termasuk juga penulis blog ini. Kegemaran dan hobbi tanaman hias telah mewabah dan menjadi demam massal seolah-olah menjadi ‘trend’ kebutuhan hidup yang dapat mengangkat gengsi dan status social mereka.

Peluang inilah yang kemudian digarap dan dimanfaatkan oleh para pelaku bisnis tanaman hias. Bahkan lantaran menjanjikan keuntungan yang lumayan gedhe, lahan bisnis baru inipun segera mengundang kalangan awan termasuk para ibu rumah tangga untuk ikut-ikutan meramaikannya. Masyarakat yang semula menekuni tanaman hias hanya sebatas hobi kemudian banyak yang tergiur dan ikutan terjun bisnis jualan aneka tanaman hias.

Secara tidak langsung efek ganda bisnis inipun segera menggelinding, mulai dari yang berskala kecil sampai besar. Pengusaha racikan media tanam dan pupuk rumahanpun jadi ikutan terseret naik daun megauk untung, sementara para grower sibuk menyemaikan biji (adenium, anthurium) dan berharap mempunyai stok bibit dalam jumlah ribuan. Lihatlah disekitar anda, kini banyak sekali pedagang tanaman hias keliling dengan gerobak atau naik motor yang keluar masuk kampung, perumahan bahkan real estate menawarkan aneka jenis tanaman hias yang lagi trend seperti anthurium, adenium, euphorbhia, sanseviera, aglaonema bahkan puring kuburan ikut2an mejeng.

Booming tanaman hias memang terjadi secara alamiah sesuai dengan hukum pasar. Perbincangan mengenai tanaman hias menjadi semakin seru dan menarik karena didalamnya bermain unsur kolektor, hobies, spekulan, bisnis dan gengsi prestisius. Jadi apakah anda juga merasa tertarik dan tertantang untuk ikutan terjun didalamnya?!.

Ouh tanaman hiasku .. kesan pertama begitu menggoda,
namun selanjutnya terserah anda, sumonggo kerso !!!

Teras Atas Rumah di Kembaran Jogja - Full Flowers






Kebun Adenium di Kembaran Jogja

MANFAAT TANAMAN HIAS

Percantik Rumah Anda
Dengan Aneka Tanaman Hias


Kehadiran tanaman dirumah anda, selain sedap dipandang, juga memberikan kesegaran udara baik di teras maupun bagi ruangan lainnya di rumah. Lalu, tanaman apa saja yang cocok bagi rumah anda ?

Tanaman untuk ditempatkan diteras rumah anda sebaiknya jangan yang berukuran terlalu gede karena masalah keterbatasan lahan. Alternatif pilihannya berkisar pada tumbuhan bugenvil, kaca piring, palem, pandan bali, dan pisang kipas yang berukuran kecil. Lazimnya, orang menggunakan rak atau pot gantung yang bisa menampung lebih banyak jenis tanaman. Rak pot yang dijual di pasaran bentuknya bermacam-macam. Yang dekoratif terbuat dari rangka besi yang dibentuk dengan cantik dan artistik.

Agar tak terlalu berat, biasanya rak memuat pot bertumbuhan kecil dan berbunga. Seperti adenium dan euphorbia, dua tanaman yang tengah naik daun. Boleh juga Aglaonema, tanaman berdaun merah dan hijau, serta bunga aster warna-warni dan anthurium. "Kebanyakan orang memang cenderung memasang dan memilih tanaman berbunga agar keindahannya maksimal,"
Untuk pot yang ditaruh di lantai, biasanya isinya tanaman besar memakai pot berkaki. Untuk yang lebih kecil, kini banyak tersedia aneka pot plastik yang sedang populer. Pilihan lain, ada pot pilar, yakni pot berbentuk kotak yang memanjang ke atas.

Supaya hemat, dianjurkan pemakaian pot besar yang bisa memuat bermacam tanaman. "Dalam pot itu, tak ada batas antar tanaman. Jadi, bisa diatur gradasi warnanya agar makin ciamik,".
Di tanah yang berbatasan dengan teras, cocok ditanami tumbuhan perdu agar air hujan yang jatuh tak memantul balik dan masuk ke teras. Maria menyarankan Anda memilih tanaman teh-tehan, krokot, oleander, bungur, dan palem ekor tupai.

Bila ingin perdu yang menebarkan wangi, pilihlah tanaman melati. Jika ingin tanaman perdu berbunga, ada pula jenis baby rose. "Bagi yang ingin tanaman cepat rimbunnya dan berbunga semarak, pilihlah lantana,".
Lets go green …

Tanaman Hias .. Refresh Your Mood !!

Bayangkan ketika anda memasuki sebuah rumah yang teduh dan asri dikelilingi dengan aneka jenis tanaman hias, dikelilingi aneka pohon berbunga, aneka tanaman perdu, tanaman rambat, hingga aneka pepohonan buah yang rindang, Sehingga sejauh mata memandang pemandangan utama yang menghampar dari seluruh ruangan di dalam rumah hingga keseluruh penjuru halaman adalah hamparan warna-warni bunga tanaman yang nampak asri dan menyejukkan mata, tempat tinggal yang demikian terasa begitu tenang dan damai menyejukkan hati. Keruwetan hidup perkotaan akan meleleh dan perlahan sirna begitu menginjakkan kaki di rumah yang sejuk, teduh dan penuh dengan kedamaian itu.

Tanaman bukanlah sekadar hiasan. Tanaman hias sebaiknya juga memenuhi fungsi sebagai "peneduh" dan filter “penyaring” debu dan udara. Setelah penghuni rumah sehari penuh didera kesibukan bekerja. Apalagi jika harus menempuh perjalanan panjang menuju dan pulang dari tempat bekerja, akan memperoleh ‘recharge jiwa’ setelah menikmati hamparan tanaman hias koleksinya. "Seger rasanya kalau melihat banyak daun, mekar dan merekahnya kembang serta ranumnya aneka buah dihalaman rumah kita.
Nilai Ekonomis Tanaman Hias
"Kolektor, hobbyist, dalam mengoleksi tanaman lebih didorong pertimbangan bahwa tanaman yang ia koleksi itu punya nilai dan tidak terlalu sulit dibudidayakan," Tidak mungkin seseorang mengoleksi tanaman yang dianggapnya tidak punya nilai jual. Demikian pula jika tanaman mudah berkembang biak, misalnya melalui bijinya yang melenting seperti tanaman adenium dan anthurium. Pertimbangan lain dalam megkoleksi tanaman hias adalah aspek kelangkaan. Semakin langka suatu tanaman hias, semakin jarang orang memiliki, semakin menimbulkan kebanggaan tersendiri.

Itu pula sebabnya banyak kolektor bertahan memilih anthurium, aglaonema, adenium, euphorbia, philodendron, sansevieria, bromelia, yang banyak beredar di pasaran saat ini. Budi daya tidak terlalu sulit, tetapi perawatan juga tidak terlalu mudah, dan harga di pasaran terus terjaga. Memang, kenyataan anthurium sedang turun di pasaran, tetapi pasar aglaonema mantap. Sebaiknya anda tetap tekun merawat tanaman koleksi anda seperti adenium, euphorbhia, anthurium Jenmanii dan Gelombang Cinta dengan sebaik-baiknya walaupun harga tanaman hias secara umum saat ini sedang anjlok, bahkan jatuh pamor.

Mengoleksi tanaman hias, memang kemudian terpulang pada tujuan anda masing-masing. Kurniawan membedakan jenis itu menjadi kolektor sejati, hobbyist, dan user atau pelaku. Sebagai pedagang, pada saat-saat memasuki masa sepi pasar seperti kali ini, ia tetap bisa santai menghadapinya. Ia mengaku acap menghabiskan waktu bersama teman-temannya, ngobrol sambil minum kopi di depan deretan koleksi anthuriumnya. Dikutip : Dari berbagai sumber.



ANTHURIUM VS AGLAONEMA

BISNIS TANAMAN HIAS

Saya heran, kenapa kalau kita menyebut berjualan tanaman hias maka yang langsung muncul di kepala kita adalah orang yang menjajakan tanaman di gerai-gerai di pinggir jalan atau di sentra-sentra tanaman hias? Tidak salah juga. Tapi nyatanya pebisnis tanaman hias yang sukses tidak selalu harus menyewa gerai baru bisa menjualnya seperti kisah yang saya uraikan barusan.
Menjual tanaman orang lain untuk mendapat komisi nyatanya juga bisa jadi model bisnis menarik. Berikut beberapa model bisnis yang lazim dikenal di dunia tanaman hias:
Sewa dan Buka Gerai Tanaman Hias.
Ini cara paling konvensional. Jual tanaman hias dengan cara menyewa lapak di tempat terbuka.
Kalau Anda punya nyali dan mau sedikit nekad, bisa gunakan lahan kosong milik pengembang yang tidak difungsikan atau lahan kosong milik siapa saja. Cuma konsekuensinya, Anda harus siap-siap dikejar petugas Trantib dan berurusan dengan para preman. Jelas, cara ini tidak dianjurkan. Yang paling baik, sewa saja secara resmi lapak-lapak di sentra-sentra tanaman hias yang juga resmi. Di Jabodetabek misalnya ada di Ragunan, Jakarta Selatan; Flona Alam Sutera, Serpong Tangerang dan Pusat Tanaman Hias BSD City di Kompleks Taman Tekno.
Sistem sewa biasanya dihitung per bulan atau per tahun di luar beaya kebersihan dan keamanan. Hitungan untuk tahun 2007, rata-rata per tahun antara Rp. 5 sampai 10 juta untuk setiap kapling. Kalau lahan sudah habis di tempat resmi tadi, Anda bisa ‘membeli hak pakai’ pada penyewa lama secara bisik-bisik. Dengan catatan, penyewa lama sudah bosan, tentu saja. Harga beli ‘hak pakai’ juga bervariasi antara Rp. 20 juta sampai Rp. 100 juta per kapling.
Menyewa lapak di sentra penjualan tanaman hias resmi, selain tidak dikejar-kejar petugas Trantib, Anda juga tidak perlu repot-repot promosi. Karena sentra tanaman itu sendiri sudah mampu mengumpulkan pengunjung. Paling tidak, kalau Anda belum punya pelanggan, kalau nasib baik, ada pelanggan tetangga kesasar masuk ke gerai Anda. Yang perlu Anda lakukan tinggal memajang tanaman-tanaman yang bagus, memasang karyawan yang ramah dan membuat gerai Anda menyenangkan.
Sewa Stand dan Ikut Pameran.
Pameran Tanaman Hias merupakan ajang promosi dan ajang penjualan yang bagus. Pihak penyelenggara melakukan banyak promosi untuk mengudang konsumen datang. Kalau Anda sewa stand dan buka pameran di situ, bukan mustahil gerai Anda dikunjungi orang, dan tanaman Anda dibeli orang. Sekadar informasi, di Jabodetabek, sewa stand saat ini berkisar antara Rp. 750rb sampai Rp. 3 jt, untuk ukuran gerai 3 x 5 meter, selama pameran berlangsung antara 7 sampai 10 hari. Di Jakarta ada beberapa event pameran tanaman yang berskala nasional, seperti Pameran Flora Fauna di Lapangan Banteng setiap bulan Agustus, atau pameran-pameran tanaman hias yang diselenggarakan Majalah Trubus. Tapi banyak juga pameran-pameran serupa yang diselenggarakan oleh Pemda, Supermal, atau event-event organizer, di banyak tempat. Kalau Anda berminat, silakan saja hubungi penyelenggaranya. Yang perlu Anda lakukan, selain menyiapkan tanaman hias andalan adalah mencetak kartu nama untuk disebar. Jangan lupa cetak nomor telepon Anda jelas-jelas, agar setelah pameran usai, tanaman Anda tetap dibeli orang.
Open House = Buka Nursery di Rumah.
Open house atau buka nursery di rumah sendiri paling enak. Anda bisa setiap hari menongkrongi, memantau, dan menerima pembeli. Kalau bisnis Anda laku, Anda boleh bilang pada keluarga di rumah yang ikut menyaksikan, bahwa jadi pedagang tanaman hias tidak hina. Cara ini gampang dilakukan bila Anda punya pekarangan atau lahan yang memenuhi persyaratan. Tapi bagi yang tidak punya lahan, bisa bikin dak.
Enaknya, para tetangga yang lewat dan melihat, atau handaitaulan yang kebetulan mampir bisa menjadi pengiklan bisnis Anda. Syukur-syukur mereka juga ikut tergerak untuk membelinya, bukan malah memintanya secara gratis. Jika yang terakhir ini terjadi, jangan sekali-kali Anda mengabulkannya. Lebih baik Anda menjual kepada mereka dengan harga miring atau rugi, daripada memberinya cuma-cuma. Jangan sampai yang kemudian menjadi berita dari mulut ke mulut adalah bahwa tempat Anda adalah tempat yang tepat di mana orang bisa mendapatkan tanaman secara gratisan. Dengan menjual murah atau rugi, sedikitnya, yang akan menjadi berita adalah tempat Anda tempat menjual tanaman dengan harga murah. Keuntungan lain dengan memilih cara ini, Anda tentu saja tidak perlu buang beaya untuk menyewa lapak. Juga, kalau sedang tidak ada pembeli, Anda bisa menikmati keindahan setiap hari. Kerugiannya: istri, mertua, anak atau cucu Anda bisa terganggu ruang geraknya. Anda juga harus mulai bersiap-siap memiliki rumah seperti hutan belantara. Cara ini juga bisa dilakukan secara luwes. Misalnya, kalau Anda masih ngantor, atau punya usaha lain, Anda bisa hanya open house pada hari Sabtu dan Minggu saja.
Nitip ke Penjual Tanaman Hias
Ini cara paling aman, terutama jika Anda tergolong hobiis pembosan. Jadi kalau ada tanaman yang Anda anggap sudah menjemukan, Anda bisa mereka untuk memasarkannya. Cara nitip teman juga pas jika Anda tergolong pemalu, atau masih malu-malu menjadi pedagang tanaman hias. Keuntungannya, rumah Anda nyaman, dan Anda tak perlu mengeluarkan beaya sewa lapak. Jeleknya, kalau tanaman Anda tersia-sia di tempat ‘penitipan’. Bahkan bukan tidak mungkin, orang-orang yang Anda titipi malah men’curi’ tanaman Anda dengan memotong bonggol atau akarnya tanpa Anda ketahui.
Menggaji Tukang Gerobak Keliling.
Ini cara paling jitu kalau rumah Anda sempit, dan Anda tidak punya kebun sendiri. Bikin gerobak dorong, dan panggil para pengangguran yang tinggal di sekitar Anda untuk diajak menjadi pedagang keliling tanaman hias. Suruh mereka masuk ke perumahan-perumahan menjajakan tanaman Anda. Dewasa ini banyak orang senang tanaman hias tapi terlalu sibuk untuk mendatangi nursery. Mereka adalah pasar potensial Anda. Enaknya, setiap hari Anda menerima setoran dari para penarik gerobak dorong.
Kalau setiap gerobak menyetor Anda uang Rp. 1 juta saja sehari, kita sudah bisa bayangkan, betapa indahnya bisnis tanaman hias. Dari sana sekaligus Anda juga bisa mendapat info tanaman apa yang disukai dan mana yang tidak disukai. Yang disukai, segera belanja di tempat penjualan grosir tanaman hias. Risikonya, kalau penarik gerobak kabur beserta gerobaknya Anda bisa gigit jari. Tapi Anda bisa cegah duluan dengan menyimpan fotokopi KTPnya. Kalau ada apa-apa, tinggal lapor polisi.
Jadi Team Hunter atau Buser
Kalau Anda ingin dapat untung dari berjualan tanaman hias tapi modal cekak atau tidak punya modal sama sekali, cara ini bisa dilakukan. Yaitu dengan menjadi seorang hunter (pemburu) atau buser (buru sergap) tanaman hias. Pada dasarnya hunter maupun buser adalah makelar atau istilah kerennya, brooker. Modalnya, informasi dan sebuah hand phone yang bisa kirim foto melalui MMS (Multimedia Messaging Service). Dengan model bisnis ini, Anda bahkan tidak harus punya tanaman sendiri.
Buka kebun khusus sendiri di daerah pinggiran.
Cara ini mungkin termasuk cara paling mahal. Karena kita harus menyewa atau memiliki lahan luas di daerah pinggiran di mana harga atau sewa tanah masih murah. Tapi percayalah, meski di dearah pinggiran sekali pun, kalau koleksi tanaman hias Anda bagus, orang akan tetap memburunya. Bak syair lagu: “Ke gunung kan kudaki, ke laut kan kuseberangi….” Keuntungannya, Anda bisa memilih konsumen yang datang ke kebun Anda. Kalau Anda sedang capek Anda bisa mengatakan nursery Anda tutup, Anda sedang di luar kota atau alasan-alasan lainnya. Bahkan Anda bisa menyeleksi pembeli Anda. Keuntungan lainnya, kalau orang sudah jauh-jauh datang ke tempat Anda, sudah pasti mereka juga akan berbelanja cukup banyak.
Buka kebun, sekaligus buka kedai kopi atau Galeri
Kalau kondisi keuangan memungkinkan, dan lokasi mendukung, selain buka kebun dan jual tanaman, Anda bisa menambah fasilitas lain seperti kafe atau kedai kopi, atau galeri lukisan. Jadi, selain berburu tanaman, pengunjung bisa minum kopi, atau beli lukisan. Di Bandung ada All About Strawberry. Bapak Ibu beli tanaman strawberry, anak-anak bisa minum juice strawberry. Di Baturaden, Purwokerto ada Puspa Tiara Nursery yang menyediakan bakso dan kopi. Istri beli tanaman, anak-anak makan bakso dan suami bisa ngopi. Semua happy.
Menjajakan dengan Sepeda Motor atau Mobil.
Cara bisnis seperti ini boleh dicoba kalau Anda tidak punya lapak. Kita ambil dagangan di tempat kulakan, lalu menjajakan secara keliling dengan sepeda motor, atau mobil. Sasarannya, pedagang-pedagang tanaman hias kaki lima. Atau masuk ke pedagang-pedagang yang sedang buka stand pameran karena terlalu sibuk sehingga tidak punya waktu untuk kulakan. Kita bisa jual per lima atau sepuluh pot. Tak usah untung banyak, asal penjualan lancar dan pembayaran bagus, sudah aduhai. Modalnya, cuma tahu tempat kulakan, tahu di mana sasaran kita berada, dan punya sepeda motor atau mobil yang bisa kita pakai. Kalau Anda bisa ngutang dulu di tempat kulakan, lebih asoy. Jadi Anda tak perlu mengeluarkan modal. Tentu saja, Anda harus langsung membayarnya begitu Anda menerima uang.
Bikin Website atau Blog
Kalau mau memasarkan tanaman Anda ke pasar lebih luas, Anda bisa bikin website. Di situ Anda bisa pasang foto-foto tanaman di situ, dilengkapi deksripsi dan harganya. Bikin website tidak mahal. Anda paling cuma harus bayar seorang desainer web, suruh bikin web. Lalu hubungi dan bayar pihak web hosting, agar website Anda bisa disiarkan ke seluruh dunia.
Keuntungan lain kalau punya website, Anda malah bisa jadi brooker. Tanaman punya teman yang mau dijual difoto, gambarnya pasang di situ. Kalau laku, Anda dapat komisi.
Pasang Iklan Baris di Internet
Punya tanaman, tapi tidak punya gerai, atau malu mejeng di pameran, tidak bisa bikin gerobak boro-boro punya website? Gampang saja. Pasang iklan baris di Internet. Dewasa ini banyak portal-portal tanaman hias yang bersedia memasangkan iklan baris Anda secara gratis. Contohnya, Trubus Online (http://www.trubus-online.com), dan juga di websitenya LangitLangit.Com (http://www.langitlangit.com) . Syaratnya cuma satu: Anda tidak gaptek Internet. Kalau cuma tidak punya Internet, gampang, datang saja ke Warnet atau bawa laptop dan bayar voucher sewa hot spot yang banyak dimiliki supermal atau kafe.
(Dikutip dari buku JURUS SUKSES JUAL TANAMAN HIAS, karangan Kurniawan Junaedhie, PT Agro Media Pustaka, Jakarta, 2007)
BISNIS TANAMAN HIAS,
LAGI LESU DARAH

Sejak akhir tahun 2007 lalu, bisnis tanaman hias lesu, letoy dan memble. HP saya setiap hari penuh dengan pesan singkat berisi keluh-kesah dari teman-teman dari Sabang sampai Merauke. Tak sedikit yang putus asa dan bertanya: Apa tanaman masih punya prospek sebagai bisnis? Bahkan ada sejawat, saking kesalnya dicekam rasa sepi, mau melego tanah, greenhouse beserta tanamannya.
Mengapa Bisnis Tanaman hias jadi letoy dan lesu darah begini? Barangkali ada beberapa faktor yang yang perlu kita analisis seperti uraian dibawah ini :
Faktor pertama, tentu saja, situasi perekonomian. Survei yang dilakukan Bank Indonesia menemukan, bahwa Indeks Keyakinan Konsumen di bulan Januari 2008 merosot jauh dan ini tercatat merupakan posisi terendah sejak sembilan bulan terakhir (Kontan, 13 Feb. 2008). Apa maknanya? Hasil survei itu mengindikasikan, orang Indonesia semakin pesimistis dengan kondisi ekonomi saat ini. Kenaikan harga-harga kebutuhan pokok membuat prospek ekonomi nasional menjadi tak menentu.
Faktor kedua, ialah cuaca. Hujan turun terus-menerus di berbagai daerah. Kalau tidak banjir, gempa bumi, tanah longsor, ombak atau air laut yang naik pasang. Ini memang force majeur. Tak bisa diprediksi, tak bisa disesali. BMG menyebutnya sebagai anomali cuaca akibat Global Warming. Banyak yang tidak sadar, dunia tanaman hias juga sedang mengalami situasi yang disebut anomali orientasi. Setelah Anthurium turun panggung, kita merindukan jagoan baru. Persis seperti yang terjadi setahun sebelumnya, saat aglaonema tak lagi dicari, kita linglung seakan kehilangan tokoh idola. Yang menarik, entah kebetulan atau tidak, para jagoan itu biasanya turun panggung memilih moment sensitif: pada akhir dan awal tahun. Hanya tahun ini, banyak orang bilang, waktunya berlangsung terlalu lama.
Sebetulnya sudah banyak yang melakukan ice breaking dengan mencoba mengatasi situasi stagnan ini. Misalnya, mencoba mengintroduksi superhero baru berupa tanaman-tanaman alternatif sebagaimana tahun lalu, melahirkan Pachypodium, Adenium Bonsai, Sansevieria dan Puring impor.
Menjelang tahun 2008, tanaman Senthe sempat ditawarkan lengkap dengan ‘cerita’ di baliknya. Misalnya, tanaman itu bagus untuk mengusir setan atau menghalau pengaruh black magic dan sebagainya. Ada juga upaya mencoba menyodorkan alternatif lain seperti Pakis Monyet, tanaman yang bentuk dan bulunya mirip seekor monyet itu. Supaya keren, tanaman itu juga dilumuri aneka mitos. Misalnya, Pakis Monyet atau juga disebut Pakis Hanoman itu adalah tanaman kesukaan Sun Go Khong, tokoh kera dalam mitologi klasik Cina. Lalu Sanse dan seterusnya.
Banyak orang bertanya; apa tanaman baru yang bakal ngetrend di tahun 2008 Maksudnya, apa atau siapa jagoan baru mendatang? Saya kira, kosa tanaman hias sejak dulu ya itu-itu saja. Yang ada siklus tanaman. Misal, tanaman lama, yang dulu tidak diperhitungkan, tiba-tiba muncul, diburu orang, dan bisa dijual dengan harga mantap. Coba siapa sangka Anthurium bakal berharga jutaan padahal tahun-tahun sebelumnya disepak-sepak? Terus ada yang bilang, supaya tanaman itu ngetrend, dan jadi jagoan, harga tanaman itu harus bagus. Dan supaya harga bagus maka tanaman itu harus sedikit populasinya. Kalau populasinya banyak orang sudah pasti enggan memburu.
Rekayasa Populasi
Kalau mau repot, sebetulnya ada cara klasik tapi jitu untuk menciptakan superhero baru. Yakni, melakukan rekayasa populasi, dengan cara menguasai atau memonopoli peradarannya. Sikat habis barang yang beredar di pasaran lalu secara pelahan-pelahan, dan sedikit demi sedikit digelontorkan ke pasar dengan harga semakin meningkat.
Beberapa tahun lalu, Adelia, aglo hibrida silangan Greg Hambali (biasa disebut aglo-aglo lokal) sempat di’habisi’. Alih-alih tanaman itu jadi dilupakan orang dan tidak laku, eh tanaman tersebut malah menjadi incaran orang. Kalau ingatan kita masih jernih, saat itu perimbangan supply dan demand sempat terguncang. Pedagang penasaran, ujungnya juga end users ikut kalap, sibuk berburu, membeli berapa pun harganya, kuatir harga naik lagi. Persis saat orang kesurupan Anthurium belum lama berselang.
Kata sahibul hikayat, ada sejumlah actor intelectual di belakangnya. Merekalah yang menghabisi, dan yang kemudian melepasnya ke pasaran dalam jumlah terkendali. Maksudnya, menjaga populasi agar harga meningkat. Harga Adelia pun dengan cepat merambat naik, dari cuma Rp. 90rb, merambat menjadi Rp. 125ribu sampai kemudian sempat mencapai Rp. 600rb per helai daunnya. Euphoria Adelia, tak syak mendongkrak pamor aglo-aglo Greg lainnya. Harga Tiara sempat dihargai Rp. 3 juta, Widuri dihargai Rp. 5 juta, dan Hot Lady dihargai sampai Rp 6 juta per daunnya.. Heran juga, waktu itu saya rela membeli anakan Hot Lady 3 daun hasil splitan, seharga Rp.17,5 juta per pot. Lupa-lupa ingat, pasti waktu itu saya berpendapat, belum trendy kalau tidak punya aglo-aglo Greg Hambali.
Aglo-aglo lokal pun bersimaharajalela di pasaran. Harga memang naik, tapi populasinya juga tak terkendali. Apesnya, di saat itu, para actor intelectual mulai menyapih pasar. Mereka menjual dengan harga tinggi tapi tak kunjung membeli kembali. Mekanisme pasar akhirnya yang bekerja secara alamiah. Harga pun anjlok karena tidak ada ‘badan penyangga’ lagi di sana. Saya kaget campur haru, belum lama ini membaca ada sebuah nursery menawarkan harga sehelai daun Adelia ‘hanya’ Rp. 100rb per helai daunnya. (LangitLangit.com, 24 Jan. 2008).
Belajar Sampai Negeri Cina
Belakangan ini, harga anthurium juga semakin hari semakin merosot. Di milis atau di forum diskusi, penurunan harga itu dibilang sebagai “koreksi harga” atau “harga terkoreksi”. Makna semantik dari kata-kata itu adalah bahwa harga yang dulu salah, dan karena sudah dikoreksi, harga yang sekarang dianggap benar. Tapi apa itu anggapan correct (benar)?
Ada cerita menarik. Ketika pertama dimunculkan, harga Senthe Wulung mencapai Rp. 250rb. Banyak pedagang memborong karena beranggapan, tanaman mirip talas ini bakal menjadi jagoan baru. Tahu-tahu orang sudah menjual dengan harga lebih murah. Dan mendadak sontak tanaman ini ada di mana-mana. Baru tahu kita, populasinya banyak. Tanaman ini bukan tanaman asing untuk masyarakat Indonesia. Senthe termasuk keluarga Caladium. Di beberapa daerah tanaman yang bikin gatal itu biasa untuk pakan kambing atau ikan gurame. Kasus hampir sama terjadi pada Pakis Monyet tadi. Waktu pertama keluar, harga satu potnya dihargai Rp. 250rb. Tapi hanya dalam hitungan bulan, harganya memble. Belakangan ketahuan, tanaman itu mudah diambil dari hutan-hutan di Palembang.
Jadi harga yang turun ternyata bukannya membuat orang datang memborong, tetapi malah membuat orang semakin takut membelinya. End users dan pedagang takut, kalau-kalau harga nanti bakal merosot lagi. Saya kira justru logika kita yang harus dikoreksi: Tidak benar harga anthurium atau aglaonema yang semakin murah, membuat orang berduyun-duyun membelinya tapi justru membuat orang lari tunggang-langgang menjauhinya.
Ada yang sinis, itulah memang tabiat jagoan kandang. Tidak kuat nyali. Lebaran masih dua minggu, harga sudah dibanting-banting. Jagoan baru yang kita mau tentu harus tahan banting dan tidak cemen. Indikasinya bisa dilihat di meja-meja para pedagang. Kenapa?
Pertama, pedagang tanaman (biasanya) tidak pernah pro-end user tapi lebih pro-kantong sendiri. Dia bukan memikirkan murah atau mahal. Tetapi mana yang bisa dijual dan menguntungkan. Kalau tanaman itu tidak bisa dijual apalagi tidak menjanjikan keuntungan, mereka tentu akan malas memasarkannya.
Kedua, pedagang juga butuh kepastian. Kalau harga tidak pasti, mereka pasti ogah membeli dan menjual nya. Padahal kenyataannya, tidak hanya harga, untuk tanaman-tanaman yang kita jagokan pasokannya saja sering-sering tidak pasti. Dari pengamatan saya singgah ke beberapa daerah baik di Pulau Jawa maupun di Luar P. Jawa selama awal tahun ini, hasilnya memang agak pahit.
Kalau tanaman impor lebih berjaya, pasti bukan salah bunda mengandung. Tanaman-tanaman impor punya kalkulasi bisnis yang jelas. Ada komponen harga yang pasti, seperti bea cukai, beaya karantina, pajak impor, ongkos cargo dan lain-lain yang membuat harga tanaman memiliki harga standar dan tidak bisa dibuat seenak udel.
Repotnya kalau kita bilang “impor”, rasa nasionalisme kita langsung bangkit. Kita lalu menyerang anthurium impor, aglo impor, pepaya impor dan barang-barang impor lainnya dengan membabi buta dan menyebar fitnah keji. Padahal, sudah sejak dulu kita dianjurkan belajar sampai ke negeri Cina. Mestinya kalau suasana tahun baru masih sepi, ya, sabarlah. Kita tidak sendiri. (Dikutip dari : Kurniawan Junaedhie, pecinta tanaman di BSD Tangerang)

PURING VS SANSEVIERA

ADENIUM VS EUPHORBIA




HUBUNGI KAMI